Kebun Maiyah
Maiyah sebagai pembaharuan pemikiran Islam yang sejati — kebun berisi bibit-bibit kebaikan yang ditanam Mbah Nun, dan kini memerlukan para ahli kebun untuk merawatnya.
Maiyah sebagai pembaharuan pemikiran Islam yang sejati — kebun berisi bibit-bibit kebaikan yang ditanam Mbah Nun, dan kini memerlukan para ahli kebun untuk merawatnya.
Sepenggal kisah cinta seorang Penyair Besar Jogja yang layaknya puisi — bahagia hanya dengan membayangkan kekasihnya melintas di bus malam.
Di tengah salah satu forum Sinau Bareng bersama Cak Nun, seseorang tiba-tiba ikut naik panggung, berjoget, dan bernyanyi sekenanya mengacaukan irama. Terlihat seperti ‘orang gila’. Setelah ditenangkan, dia ditanya tentang pekerjaannya. Dia menjawab, “Apa yang kukerjakan hari itu, itulah pekerjaanku.” Subhanallah, hikmah bisa dititipkan Allah melalui siapa saja. Bahkan ‘orang gila’ itu lebih mengerti daripada kita yang ’normal’, bahwa pekerjaan itu bukan identitas. Bahwa bekerja ya memang karena orang hidup disuruh Allah harus beramal shalih (bekerja). Sesederhana itu.
Dari kerusakan bumi, ketimpangan, AI, sampai perang — akar semua kerusakan adalah nafsu yang tak dikendalikan, dan puasa sepanjang hidup adalah fondasi perbaikannya.
Kita tak lagi bertengkar soal agama — bukan karena rukun, tapi karena diam-diam kebanyakan kita telah memeluk agama yang sama: kapitalisme dan konsumerisme.
Menimbang ulang makna ‘ulama’ dalam Al-Qur’an, dan membayangkan Majelis Ulama sebagai Dewan Keilmuan Negara yang beranggotakan para pakar lintas bidang.
Kita rajin mengumpulkan nasihat bijak tapi jarang mempraktikkannya — renungan tentang jarak antara pengetahuan dan ilmu yang hanya bisa dijembatani dengan laku.
Ungkapan populer yang memisahkan urusan dunia dan akhirat itu bukan hadits — dan cara berpikir sekuler di baliknya justru menyimpangkan makna hidup beragama.