Suatu ketika Rasulullah dimintai nasihat oleh seorang pemuda, “Ya Rasulullah berikan aku satu saja nasihat supaya aku menjadi baik.” Rasulullah tersenyum dan menjawab singkat, “Jangan berbohong.” Singkat cerita, pemuda itu yang tadinya ahli molimo berhenti total dari kemaksiatan. Lha bagaimana mau berbuat maksiat, setiap kali hendak berbuat maksiat dia segera mengurungkan niatnya, karena ingat betapa malunya nanti kalau ditanya Rasulullah tentang perbuatannya.

Dia menjadi baik karena sungguh-sungguh menjalankan satu perintah ‘sederhana’ dari Rasulullah untuk selalu berkata jujur. Ini menunjukkan betapa tingginya tingkat inteligensi Rasulullah. Beliau mampu merangkum semua kebaikan dalam satu kata saja. Rasulullah bersabda, “Aku diberi oleh Allah kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang singkat, ringkas, namun isinya padat”. Nasihat ‘khusus’ kepada pemuda sang penanya itu tentu tidak sembarangan dikeluarkan begitu saja. Dalam sepersekian detik meresponse pertanyaan itu, Beliau bisa menemukan pintu kebaikan yang sesuai dengan karakter dan situasi sang penanya dan akan menghantarkannya ke kebaikan seluruhnya. Rasulullah sungguh adalah kota ilmu. Hanya orang jenius yang mampu merumuskan sesuatu yang kompleks menjadi sederhana dan mudah dipahami oleh orang lain.

Di sisi lain, Islam memang sangat indah dan memudahkan, menyediakan banyak pintu menuju kebaikan. Cukup mengerjakan satu perintah saja, asalkan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Seperti halnya, “Salah sawijine sapa bisa ngelakoni. InsyaAllah Gusti Pangeran nyembadani”, lirik lagu terakhir Tombo Ati yang selalu sangat menggetarkan hati ketika dibawakan oleh Mbah Nun dan Kiai Kanjeng. Dari kelima kebaikan yang diajarkan di lagu itu (baca Al Qur’an, shalat malam, berkumpul dengan orang shalih, menahan lapar, dzikir malam) cukup satu saja dikerjakan, asalkan sungguh-sungguh, maka kebaikan yang lain otomatis juga akan tercapai.

Sementara yang dilakukan kebanyakan dari kita adalah sibuk mengkoleksi begitu banyak nasihat para bijak dan kata-kata mutiara para motivator. Sekadar mengumpulkan, copy paste, dan kemudian menjadikannya status di media sosial, sudah merasa memahami dan menguasainya. Setiap hari melahap petuah-petuah, tetapi tak ada satupun yang dipraktekkan dengan sepenuh hati. Makanya dari dulu maqam spiritualnya ya begitu-begitu saja. Selalu dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa. Entah kapan tercapainya. Koleksi nasihat dan tidak dipraktekkan, itu selangkah lagi menuju perilaku yang amat dibenci Tuhan yaitu jarkoni, bisa ngajar ora bisa ngelakoni. Alias NATO, no action talk only. Saya berlindung kepada Allah semoga tidak termasuk orang yang dimaksud dalam ayat ini.

Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. ash-Shaff: 2-3)

Ngelmu kalakone kanti laku, kata orang Jawa. Pengetahuan itu terinternalisasikan dengan latihan. Mbah Nun pernah mengatakan, ada jarak yang sangat jauh antara pengetahuan dengan ilmu. Seseorang bisa mengetahui segala sesuatu tentang pedang, tetapi sama sekali tidak mampu memainkannya. Seseorang bisa sangat luas dan dalam pengetahuannya tentang agama, tetapi tidak tercermin sedikitpun dalam kesehariannya. Hanya praktek, latihan, pembiasaan yang bisa menjembatani jarak itu.

Jangan pernah mengira bisa menjadi ahli syukur kalau kita tidak memulai dengan hal-hal kecil. Bersyukur masih bisa terbangun di pagi hari dengan sehat. Masih bisa menikmati makanan. Masih bisa menikmati hangatnya sinar matahari. Jangan pernah mengira bisa menjadi termasuk golongan orang yang sabar jika kita tidak berlatih menyikapi hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan harapan kita dengan sabar. Bersabar menerima ucapan yang menyakitkan hati. Bersabar dalam kemacetan. Jangan pernah mengira bisa menjadi mujahid jika kita tidak berlatih bersungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh-sungguh dalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. Dan demikian juga dengan hal-hal kebajikan lainnya.

Kalau pengetahuan tentang kebaikan tidak diinternalisasikan menjadi akhlak, maka yang terjadi adalah decoupling. Putus kaitan antara intelegensi dan kesadaran. Kalau begitu apa bedanya dengan komputer. Kecerdasan buatan sekarang semakin tinggi tingkat inteligensi-nya, bahkan dalam tugas-tugas yang spesifik sudah melebihi kecerdasan manusia. Seperti misalnya dalam games. Tidak ada lagi Grand Master catur yang bisa mengalahkan program catur komputer, sejak Garry Kasparov dikalahkan oleh super komputer Deep Blue buatan IBM di tahun 1997. Dan yang terakhir program AlphaGo dari DeepMind Google telah mengalahkan Lee Sedol juara dunia permainan Go, permainan papan yang dianggap sebagai permainan paling rumit di dunia, karena kombinasi langkahnya lebih banyak dari jumlah atom di alam semesta.

Tetapi secerdas-cerdasnya komputer, tetap tidak memiliki kesadaran. Komputer tidak bisa memproses makna dan memahami konsep baik buruk. Kalau ulama hanya sekadar soal pengetahuan agama dan tidak tercermin dalam perilaku, maka Mbah Google atau Mbah ChatGPT adalah ulama paling hebat di dunia ini.

Makanya jangan menumpuk-numpuk pengetahuan. Itu baik, tapi juga harus diikuti dengan penerapannya, kalau tidak nanti dia akan menuntut haknya kepada sang empunya ilmu di akhirat nanti. Makanya ayo sekarang juga, mulai ngelakoni dengan sungguh-sungguh apa saja yang sudah diajarkan Mbah Nun, semampu-mampu kita. Tandang. Just do it.