Aku shalat rutin 5 kali sehari. Tapi mungkin yang khusyu’ bisa dihitung dengan jari. Selebihnya pikiranku melayang ke sana ke mari. Yang kuingat dari shalat seringkali hanyalah ketika takbiratul ikhram. Dan pada saat menengok ke kanan kiri mengucapkan salam.

Bener kata Bang Haji. Sungguh terlalu. Sudah didiskon 90% dari yang pertama diperintahkan, masih saja aku ogah-ogahan mendirikannya. Mungkin seharusnya Nabi Musa tidak usah menyarankan Rasulullah untuk ‘menawar’ kewajiban shalat 50x sehari. Biar sekalian tahu rasa. Supaya manusia tahu bahwa jiwa memang harus dididik sesering mungkin untuk selalu ingat akan pertemuan dengan Tuhannya.

Tapi sebenarnya tidak mengherankan, karena sehari-hari pun aku jarang sepenuhnya hadir dalam hal apapun. Badanku di sini tapi pikiranku entah di mana. Aku dikuasai angan-angan yang dikipas-kipasi oleh setan. Dari hal yang kecil seperti ketika berbicara dengan orang lain, aku tidak sepenuhnya hadir mendengarkan. Aku terlihat memperhatikan apa yang dikatakan lawan bicara, tapi pikiranku dikuasai oleh simulasi apa yang selanjutnya aku akan katakan. Seringkali bagaimana caranya supaya terlihat pintar.

Apalagi jaman Medsos, makin aku tidak mampu untuk hadir di sini dan saat ini. Bahkan saat buang air besar pun, ada yang kurang rasanya tanpa membawa gawai. Khawatir tertinggal mendapatkan atau memberikan informasi yang sangat penting, seperti postingan foto sarapan pagi. Ragaku duduk bersama anak istri, tapi pikiranku mengembara mengurusi yang bukan urusanku sendiri. Padahal aku tahu, semua hal yang bukan tanggung jawabmu dan/atau di luar kendalimu adalah bukan urusanmu. Dan sama sekali tidak ada gunanya untuk dipikirkan, apalagi dimasukkan dalam hati.

Jika untuk urusan yang dhahir saja engkau tidak mampu mengendalikan pikiranmu untuk khusyu’ di dalamnya. Apalagi ketika sowan dengan Yang Maha Ghaib. Engkau hanya bisa khusyu’ dalam shalatmu, ketika engkau juga khusyu’ dalam hidupmu. Maka berlatihlah untuk khusyu’ dalam hidupmu, supaya diterima shalatmu. Atau bisa juga dibalik, jadikan shalatmu untuk latihan menjadi khusyu’ dalam kehidupan. Keduanya sama, engkau mesti berlatih mengendalikan pikiranmu untuk hadir sepenuhnya di sini dan saat ini. Tidak membiarkannya terombang-ambing terseret oleh angan-angan yang dikompori oleh setan, apalagi ketika jelas-jelas engkau sedang menyembah Tuhan. Kalau tidak persembahanmu itu hanya akan seperti pakaian kumal yang dilipat-lipat dan dilemparkan kembali kepadamu.