Gede Rasa
Dari pengalaman memalukan GR semasa remaja sampai soal siapa yang pantas memegang amanah: renungan tentang ‘bisa merasa’ dan ‘merasa bisa’.
Dari pengalaman memalukan GR semasa remaja sampai soal siapa yang pantas memegang amanah: renungan tentang ‘bisa merasa’ dan ‘merasa bisa’.
Diam-diam kita ingin kaya raya sekaligus masuk surga, dan bersedekah dengan harapan balasan berlipat — padahal Tuhan justru melarang memberi karena mengharap lebih.
Sepenggal kisah cinta seorang Penyair Besar Jogja yang layaknya puisi — bahagia hanya dengan membayangkan kekasihnya melintas di bus malam.
Hati perlu digantungkan pada sesuatu agar bahagia — tapi kalau digantungkan pada yang fana, ia akan terhempas; maka gantungkanlah pada buhul tali yang kokoh.
Ketika doa seakan selalu terkabul, jangan buru-buru merasa jadi kekasih Allah — bisa jadi itu doa orang lain, atau justru istidraj.
Memadukan kisah Adam yang diajari nama-nama dengan revolusi kognitif manusia — bagaimana bahasa menjadikan manusia khalifah, tapi juga perusak di bumi.
Kriteria pertama orang bertakwa adalah iman kepada yang ghaib — tapi kita justru jadi penganut materialisme, menyembah api hawa nafsu di kuil-kuil kapitalisme.
Kita tak lagi bertengkar soal agama — bukan karena rukun, tapi karena diam-diam kebanyakan kita telah memeluk agama yang sama: kapitalisme dan konsumerisme.
Membandingkan diri dengan orang lain adalah sumber ketidakbahagiaan — orang yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari kemarin, berlomba dengan dirinya sendiri.
Dari sisi sahabat yang menghadapi kanker stadium akhir, sebuah renungan tentang berserah kepada Allah — dan mengapa kita tak perlu menunggu dipaksa untuk melakukannya.