Ketika Allah mengabarkan bahwa Dia akan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, malaikat ‘protes’:
…Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?… (QS. Al-Baqarah: 30)
Bagaimana para malaikat bisa sampai protes? Bukankah pengetahuan mereka semata-mata hanya dari Allah dan malaikat itu bukan makhluk kemungkinan? Tidak seperti manusia, malaikat adalah makhluk kepastian. Mereka hanya punya satu pilihan, yaitu berlaku baik tunduk patuh pada Allah. Jadi barangkali malaikat memberanikan diri mempertanyakan keputusan Tuhan karena memang sebelumnya sudah ada manusia pra-Adam yang pekerjaannya adalah merusak bumi dan menumpahkan darah.
Manusia purba sudah ada sejak kira-kira 2 juta tahun yang lalu. Pada awalnya, walaupun manusia purba memiliki volume otak yang jauh lebih besar dibandingkan makhluk bumi lain (dan oleh karenanya pasti lebih cerdas), mereka hanya merupakan salah satu elemen dari keseluruhan ekosistem kehidupan di bumi yang tidak mempunyai pengaruh signifikan. Sepertinya potensi kecerdasan manusia purba itu tidak bisa diaplikasikan menjadi keunggulan kompetitif manusia purba dibandingkan spesies lain.
Hanya pada kurun waktu 70.000 sampai 30.000 tahun yang lalu lah terjadi perubahan mendasar terhadap kemampuan kognitif manusia. Walaupun volume otak tetap sama, tetapi entah bagaimana cara berpikir manusia berubah drastis sehingga memungkinkan cara komunikasi atau bahasa yang baru. Mungkin dalam kurun waktu inilah diciptakan Adam, yang “mengetahui nama-nama” (sebagai dasar bahasa) setelah diajarkan oleh Allah swt.
Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (QS. Al-Baqarah: 31)
Keunggulan bahasa manusia baru era Adam dibandingkan dengan bahasa manusia purba sebelumnya atau spesies lainnya adalah tingkat keluwesannya yang tinggi sehingga bisa menyimpan banyak informasi (benda dan namanya) untuk dikomunikasikan. Dan bukan hanya benda-benda fisik nyata, tetapi juga tentang konsep-konsep abstrak, salah satunya yang terpenting berupa mitos-mitos yang bisa membuat manusia rela diperintah apa saja. Tanpa konsep abstrak yang menyatukan manusia (seperti konsep Tuhan, mitos tentang bangsa, dsb) manusia hanya akan berkolaborasi secara efektif dengan maksimal 150 orang manusia lainnya. Dengan mempercayai mitos yang sama, maka manusia bisa saling bekerja sama walaupun tidak kenal secara personal, sehingga memungkinkan berjuta-juta orang bekerja sama.
Kemampuan bahasa inilah yang memungkinkan manusia untuk berkolaborasi dalam jumlah besar, membangun peradaban, dan mendominasi planet bumi -(seharusnya bisa) menunaikan amanah yang diberikan Penciptanya menjadi khalifah di bumi.
Namun alih-alih menjadi wakil Allah di bumi untuk menyelenggarakan kebaikan, yang dilakukan kebanyakan manusia adalah persis seperti yang diprediksikan oleh malaikat, yaitu merusak dan menumpahkan darah. Sejak revolusi kognitif Adam, manusia semakin berkembang biak, membangun peradaban yang sebagian besar episodenya berisi eksploitasi dan perebutan sumber daya bumi untuk pelampiasan nafsunya. Kelihatannya Iblis memang telah sukses menunaikan tugasnya.
Ia (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Isra’: 62)