Ada ayat yang umurnya sudah empat belas abad, tapi setiap kali saya bacanya terasa seperti baru diturunkan tadi malam. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41). Begitu terang dan tegas. Bukan metafora. Bukan simbolisme yang perlu ditafsir dengan khusyuk berlama-lama. Kerusakan itu nyata. Pelakunya jelas: manusia. Dan ayat ini turun di abad ke-7 Masehi, jauh sebelum ada pabrik, sebelum ada knalpot, sebelum ada deforestasi terencana atau bom cluster. Allah sudah tahu. Dan mungkin itulah kenapa jauh sebelum manusia diciptakan, waktu Allah mengumumkan rencana-Nya kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”, para malaikat itu langsung bertanya dengan nada yang, kalau boleh saya terjemahkan bebas, agak ‘protes’: “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” (QS. Al-Baqarah: 30).

Malaikat tidak bodoh dan bukan pembangkang. Mereka bukan protes -para ulama menjelaskan ini bukan i’tiradh (penentangan), tapi isti’lam, bertanya karena ingin tahu hikmat-Nya. Tapi tetap saja, pertanyaan itu mengandung sebuah observasi yang sangat jujur: makhluk ini akan bikin masalah. Dan Allah menjawab dengan tenang: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Coba kita lihat sejarah. Apakah prediksi malaikat itu salah? Tidak terlalu. Sejarah manusia adalah sejarah perang, perebutan kekuasaan, dan saling membunuh dengan berbagai dalih yang terus diperbarui versinya setiap abad. Hanya dalihnya yang berganti. Efisiensinya yang bertambah. Senjatanya yang makin canggih. Nafsunya yang sama.

Dan di zaman modern ini, kerusakan itu mungkin sedang berada di puncaknya. Dan ironisnya, puncak kerusakan ini dimulai bukan dari kebodohan, tapi justru dimulai dari apa yang disebut ‘pencerahan’. Renaissance. Enlightenment. Nama-namanya indah dan menjanjikan. Manusia mulai menaruh kepercayaan pada dirinya sendiri, pada logika, pada sains, pada humanisme. Tuhan digeser ke pinggir -atau setidaknya dianggap tidak relevan untuk urusan-urusan duniawi. Descartes bilang “cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Manusia jadi pusat. Manusia jadi tolok ukur. Manusia jadi tuhan kecil yang merasa bisa mengurus dunia sendiri.

Dan hasilnya? Kita lihat sekarang.

Alam rusak. Perubahan iklim bukan lagi perdebatan akademis -itu realita yang sudah terasa di kulit. Suhu bumi naik. Hutan menyusut. Binatang punah dengan kecepatan yang para ilmuwan sebut sebagai “mass extinction”. Lautan penuh plastik. Sungai penuh limbah. Bahkan di desa-desa kecil di pelosok, air sungai yang dulu bisa langsung diminum sekarang tidak layak untuk mandi. Itu bukan bencana alam. Itu al-fasad -kerusakan hasil tangan manusia, persis seperti yang disebut Al-Qur’an.

Ketimpangan kesejahteraan. Delapan orang terkaya di dunia menguasai kekayaan yang setara dengan separuh penduduk bumi. Bukan delapan ratus orang. Delapan. Di saat yang sama, ada ratusan juta manusia yang tidur dengan perut kosong. Sistem ekonomi global -yang katanya buah dari ilmu pengetahuan dan rasionalitas modern- ternyata sangat piawai dalam menumpuk kekayaan di satu titik dan menguras sisanya. Efisien untuk yang di atas. Brutal untuk yang di bawah.

Dan sekarang datang AI. Teknologi yang katanya akan membebaskan manusia dari pekerjaan membosankan, membuka peluang baru, meratakan akses pengetahuan. Mungkin sebagian itu benar. Tapi yang juga benar: AI dikuasai oleh segelintir perusahaan teknologi yang nilai perusahaannya setara dengan GDP beberapa negara digabung. Mereka yang punya data, punya infrastruktur, punya akses komputasi -merekalah yang panen. Sisanya? Kebanyakan hanya jadi konsumen, atau lebih tragis lagi, jadi bahan baku: data perilaku kita yang dipanen gratis, diproses, dijual mahal. Buruh pabrik digantikan robot. Pekerja kantoran digantikan model bahasa. Petani kecil bersaing dengan sistem pertanian presisi yang hanya mampu dibeli korporasi besar. Jurang yang sudah lebar itu sekarang sedang dipasangi turbo.

Penurunan moral. Ini agak sulit diukur dengan grafik, tapi siapapun yang jujur dengan dirinya akan merasakannya. Cara kita bicara satu sama lain di media sosial. Cara kita memperlakukan orang yang berbeda pandangan. Pornografi yang menjadi industri triliunan. Keluarga yang semakin rapuh. Anak-anak yang dibesarkan oleh layar. Manusia semakin pandai tapi semakin tidak punya adab.

Dan perang. Oh, perang.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari 2026 -dinamakan “Operation Epic Fury” oleh Amerika, “Operation Roaring Lion” oleh Israel. Lebih dari seribu orang tewas dalam beberapa hari pertama, termasuk sekitar 180 anak perempuan yang sedang belajar di sekolah dasar ketika rudal jatuh di Minab. Justifikasinya? “Pre-emptive strike”. Ancaman nuklir. Keamanan regional. Ancaman terhadap keamanan nasional. Istilah-istilah besar yang selalu terdengar gagah dan patriotik ketika ingin menyerang suatu negara tanpa terlalu repot menjelaskan alasannya. Padahal tepat sehari sebelum serangan, mediator Oman mengumumkan bahwa Iran sudah menyetujui untuk tidak menimbun uranium dan menerima verifikasi penuh dari IAEA. Negosiasi sedang berlangsung. Diplomasi sedang berjalan. Lalu bom dijatuhkan. Ini adalah “war of choice”, bukan “war of need”. Memang niatnya ingin berantem, bikin ontran-ontran di dunia, memuaskan ego untuk berkuasa.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia dengan pede-nya menawarkan diri untuk menjadi mediator perdamaian. Mau ketawa tapi gimana ya. Itu ibarat anak kecil gendut mau melerai dua preman pasar yang sedang menggebuki orang. Dan anak kecil itu memberi nasihat pada orang yang sedang digebuki itu dan sedang membela diri sebisa-bisanya, untuk bersedia ngomong baik-baik ke para penganiaya itu. Absurd. Mungkin malah mendingan kita kirim ke Trump dan Netanyahu, potongan video dari orang sekelas wali di Solo yang berulang-ulang menyerukan penghentian perang… “Stop de Wor. Ai Ripit. Stop de Wor.”

Lalu apa akar dari semua kerusakan ini?

Kalau kita mau jujur dan mau menarik benang merahnya sampai ke ujung, kita akan menemukan satu hal: nafsu yang tidak dikendalikan.

Plato, filosof Yunani yang hidup empat abad sebelum Masehi, sudah membagi jiwa manusia menjadi tiga bagian. Yang paling rendah disebut “epithumia” -nafsu-nafsu biologis dan material: lapar, haus, seks, kenyamanan tubuh, keinginan akan harta. Di atasnya ada “thumos” -semangat, ambisi, harga diri, kehormatan, hasrat untuk diakui dan untuk menang. Dan yang tertinggi adalah “logos” -akal, kebijaksanaan.

Kerusakan alam terjadi karena epithumia yang liar: konsumsi yang tidak pernah cukup, eksploitasi yang tidak pernah puas. Ketimpangan ekonomi terjadi karena epithumia dan thumos bergabung: serakah yang diperkuat oleh ambisi menguasai. Perang terjadi karena thumos yang meledak-ledak: harga diri negara, kehormatan bangsa, ambisi hegemoni -semuanya berujung pada peluru dan bom dan mayat yang bertumpuk.

Penurunan moral? Itu campuran keduanya. Epithumia yang tidak direm, diperjual-belikan sebagai industri, dinormalisasi sebagai gaya hidup.

Tafsir Al-Qur’an atas QS. Ar-Rum: 41 dari Kementerian Agama kita sendiri menyebut dengan gamblang bahwa “kerusakan di bumi adalah akibat mempertuhankan hawa nafsu.” Empat belas abad lalu dan Plato dari Athena empat abad sebelum itu, keduanya bicara tentang hal yang sama. Nafsu yang tidak dikendalikan adalah racun peradaban.

Dan di sinilah puasa masuk ke dalam percakapan ini.

Bukan sebagai ritual tahunan yang kita jalani dengan setengah hati sambil scroll TikTok sampai subuh. Tapi sebagai sebuah teknologi pelatihan jiwa -yang umurnya setua peradaban manusia- untuk menahan diri mengendalikan nafsu.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). “Kama kutiba ‘alalladzina min qablikum” -sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu. Para ulama menjelaskan bahwa sejak Nabi Adam, sejak Nabi Nuh, sejak Nabi Musa, sejak Nabi Isa -setiap tradisi kenabian membawa serta tradisi puasa. Buddha berpuasa. Para pertapa Hindu berpuasa. Rahib-rahib Kristen berpuasa. Semua tradisi spiritualitas mengenal pengendalian diri dari makanan dan hasrat sebagai bagian dari latihan jiwa.

Bukan kebetulan. Allah pencipta manusia, dan oleh karenanya tentu paling tahu apa yang manusia butuhkan untuk ‘selamat’. Bukan selamat dari harimau atau dari virus. Selamat dari dirinya sendiri. Dari nafsu-nafsunya sendiri yang punya kecenderungan untuk merusak. Dan metode yang paling konsisten lintas zaman, lintas budaya, lintas tradisi spiritual adalah: ‘menahan diri’. Puasa bukan solusi simplistik atas semua masalah itu. Tapi puasa yang sejati -puasa sepanjang hidup, bukan puasa satu bulan lalu balas dendam- adalah fondasi dari mana perbaikan bisa dimulai. Karena pemimpin yang bisa menahan nafsunya tidak akan korupsi. Karena negara yang rakyatnya bisa menahan nafsunya tidak akan mudah diprovokasi menjadi saling bunuh. Karena manusia yang mengenal puasa sejati tidak akan sanggup merusak bumi yang dipercayakan kepadanya.

Cak Nun selalu mengatakan bahwa puasa Ramadan itu hanyalah madrasah. Sekolah. Latihan. Satu bulan dalam setahun kita berlatih menahan: menahan makan, menahan minum, menahan syahwat, menahan amarah. Dan puasa sesungguhnya adalah sepanjang hidup. Menahan diri dan tahu batas. Di setiap napas. Di setiap keputusan. Di setiap momen di mana nafsu berteriak dan akal serta hati harus memutuskan apakah kita ikut atau tidak.

Dan Cak Nun menjalaninya. Bukan sebagai teori. Bukan sebagai ceramah yang selesai ketika mic diletakkan. Beliau menjalani puasa itu sepanjang hidupnya -puasa dari kuasa, puasa dari kemewahan, puasa dari kepentingan pribadi. Kalau mau, beliau bisa jadi apa saja. Koneksinya luar biasa. Pengaruhnya lintas generasi. Orang-orang dari berbagai kalangan -dari wong cilik sampai pejabat, dari seniman sampai ulama- datang sowan. Semua modal itu ada. Semua pintu itu terbuka. Tapi tidak satu pun dikapitalisasi untuk keuntungan diri sendiri. Cak Nun tetap Cak Nun yang dulu -yang kalau bepergian dompetnya hanya berisi tiga ratus ribu rupiah. Bukan karena tidak mampu atau tidak ada yang mau memberi lebih. Tapi karena beliau tahu batasnya. Dan beliau memilih batasnya sendiri.

Belok sedikit. Saya teringat cerita Cak Nun disuguhi kopi di Jombang oleh Ibunda Halimah di siang hari bulan Ramadan. Lho, kok minum kopi di siang hari? Tentu kita tahu ada rukhsah safar, ada kondisi-kondisi di mana puasa bisa ditangguhkan, ada fiqih yang mengaturnya dengan detail. Tapi moral of the story bukan di sana. Moral of the story-nya adalah: Cak Nun sudah menjalani puasanya sepanjang hidup, maka soal segelas kopi dan sebatang Dji Sam Soe di satu siang di bulan puasa tentu tidak mengubah hakikat siapa beliau dan bagaimana beliau menjalani hidupnya. Kita jangan ikut-ikutan ngopi di siang hari bulan puasa, ya. Maqam puasa kebanyakan dari kita (khususnya saya) adalah masih “hanya mendapatkan lapar dan dahaga”. Kita ini masih di level: disuruh menahan diri, tapi kita malah melampiaskan. Ironinya justru terlihat setiap Ramadan.

Menurut data BPS, pengeluaran rumah tangga meningkat 20–30 persen selama bulan puasa. Bazar makanan membludak. Mall penuh sesak. Belanja pakaian melonjak. Kita menahan diri di siang hari, lalu melampiaskan semuanya di malam hari. Puasa berubah menjadi jadwal makan yang dipindahkan waktunya. Bukan latihan pengendalian diri. Lalu di hari lebaran kita berkata dengan penuh percaya diri: “Kita telah meraih kemenangan.” Kemenangan yang mana?

Ada juga kisah Ali KWH - Ali bin Abi Thalib, gerbang kota ilmunya Rasulullah dan salah satu pedang Islam yang paling tajam. Suatu hari dalam pertempuran, beliau berhasil menghempaskan musuh dan sudah siap menebaskan pedangnya ke leher si musuh -ketika musuh itu meludahi wajahnya. Ali menghentikan pedangnya. Bukan karena tidak bisa membunuh. Tapi karena beliau khawatir: kalau sekarang saya bunuh dia, apakah itu karena taat kepada Allah -atau taat kepada amarah saya yang baru saja dihina? Ali memilih untuk tidak membunuh daripada membunuh dengan niat yang salah. Itu “puasa thumos” dalam bentuknya yang paling dramatis -menahan hasrat harga diri di momen di mana semua orang akan memaklumi kalau beliau melampiaskannya.

Dan puncaknya, tentu saja, adalah Rasulullah Muhammad ﷺ.

Ada kisah dalam sirah -yang diriwayatkan dengan berbagai versi oleh para ulama dan ahli Tarikh- tentang saat Allah menawarkan pilihan kepada Nabi-Nya. Malaikat Jibril datang, menyampaikan penawaran: apakah engkau ingin menjadi ’nabiyyan malikan’ -nabi yang sekaligus raja diraja, dengan segala kuasa dan kemewahan dunia? Atau ’nabiyyan abdan’ -nabi yang hamba?

Rasulullah ﷺ menundukkan kepala. Kemudian berkata: “nabiyyan abdan”.

Beliau menolak bukit-bukit Mekah diubah menjadi emas untuknya. Beliau memilih sehari lapar sehari kenyang, agar ketika lapar bisa merendah dan berdoa, ketika kenyang bisa bersyukur dan memuji. Beliau pernah tidur di atas tikar daun kurma yang bekasnya membekas di pipi dan punggungnya -seorang sahabat menangis melihatnya dan memohon agar dibeli kasur yang lebih layak. Rasulullah tersenyum: “Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian pergi.”

Inilah puncak puasa. Bukan menahan makan seharian. Bukan menahan tidur semalaman. Tapi menahan seluruh nafsu akan dunia -kekuasaan, kekayaan, kehormatan, pengakuan- dan memilih untuk tetap menjadi hamba. Padahal bisa. Padahal ditawari. Padahal kalau mau, dunia itu sudah tersedia di depan pintu.

Nabiyyan abdan. Nabi yang hamba. Bukan nabiyyan malikan yang raja diraja.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim.