Dulu, Allah tidak segan-segan turun tangan.
Kaum Nuh yang menertawakan bahtera itu -yang katanya gila, yang katanya lebay- tenggelam semua. Sembilan ratus lima puluh tahun Nuh berdakwah, dan yang beriman cuma sekitar delapan puluh orang. Sisanya? Allah kirimkan banjir besar yang tidak menyisakan tempat untuk kaumnya menyelamatkan diri. Termasuk anak dan istrinya yang durhaka. Firman-Nya langsung, eksekusi-Nya terhadap pembangkangan juga langsung.
Kaum Luth juga begitu. Kota Sodom dan sekitarnya dibalik, harfiah dibalik, diangkat lalu dijungkirkan ke tanah, lalu dihujani batu dari langit. Bukan metafora tapi literally memang seperti itu. Itu intervensi Allah melihat kezaliman yang tidak lagi bisa diperbaiki.
Dan yang paling dramatis mungkin kisah Firaun. Sudah sembilan azab dikirimkan -belalang, katak, darah, kegelapan, wabah- tapi Firaun tetap keras kepala. Baru setelah dia dan pasukannya mengejar Musa ke tengah laut yang terbelah, Allah tutup kembali airnya, dan selesai, Firaun dan bala tentaranya ditelan lautan. Firaun yang mengaku Tuhan itu mati tenggelam, dan Allah abadikan jasadnya sebagai Pelajaran. “Maka hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu.” (QS. Yunus: 93). Di zaman itu, intervensi Allah langsung turun. Begitu pembangkangan melampaui batas, selesai sudah.
Tapi setelah Nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad hadir, sesuatu berubah.
Allah berjanji: “Allah tidak akan menyiksa mereka selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33). Saking cintanya Allah kepada Muhammad saw., saking mulianya makhluk bernama Rasulullah itu di mata Sang Pencipta, kehadiran beliau saja sudah cukup menjadi tameng bagi seluruh umat manusia dari azab langit yang mendadak. Kehadiran tentu saja harus dimaknai bukan hanya secara fisik, tapi juga ruhani. Ini bukan kalimat klise di ceramah Jumat. Ini ayat yang serius. Orang-orang seperti Abu Jahal -yang sombongnya minta ampun, yang menantang: “kalau memang ini kebenaran, hujankan saja batu dari langit” -pun tidak diazab secara langsung, semata-mata karena Nabi ada di sana. Dan pembangkangan Abu Jahal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan manusia modern sekarang ini.
Tapi bukan berarti Allah berhenti berintervensi sama sekali.
Siapa yang bisa menjelaskan secara rasional bagaimana hanya sarang laba-laba dan sepasang merpati di mulut gua Tsur bisa membuat para pengejar Quraisy berbalik -padahal mereka berdiri persis di depannya? Para pengejar dari Quraisy berdiri persis di depan mulut gua itu. Kalau mau masuk, mereka tinggal masuk. Tapi tangan-Nya yang tak kelihatan membuat mereka berbalik. Ini bukan keberuntungan. Ini intervensi.
Dan yang paling kolosal -yang paling layak disebut sebagai miracle of miracles dalam sejarah militer manusia- adalah Perang Badar. Tiga ratus tiga belas orang melawan seribu. Pasukan kecil serabutan yang kelelahan, baru hijrah, miskin perlengkapan. Melawan tentara yang terlatih, bersenjata lengkap, dilengkapi unta-unta perang. Lalu Allah turunkan malaikat seribu orang untuk membantu. “…Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9). Ketenangan Allah turunkan, malaikat Allah kirimkan, kemenangan diraih oleh pihak yang secara jumlah dan logistik harusnya kalah telak.
Kami percaya itu semua bukan dongeng. Kami percaya itu semua nyata. Dan justru karena kami percaya itulah -kami di sini, hari ini, dengan kondisi negara yang memprihatinkan seperti ini- kami berani memohon: Ya Allah, mohon intervensi-Mu.
Kami frustasi. Kalau boleh jujur, kami mendekati putus asa.
Bukan mendramatisir. Ini kenyataan bahwa kebusukan ada di mana-mana, dan dari manapun kami melihat, tidak ada skenario yang masuk akal tentang bagaimana bangsa dan negara ini bisa diperbaiki dari dalam. Coba kita tengok satu per satu elemen yang seharusnya bisa membawa perubahan.
Rakyat? Civil society, ormas, LSM -yang harusnya jadi pressure group, yang harusnya jadi watchdog, yang harusnya bisa mendorong perubahan dari bawah- banyak yang sudah berorientasi uang. Ormas mengeksploitasi kasus. LSM mencari donor sebelum mencari kebenaran. Dan rakyatnya sendiri? Lima puluh delapan persen memilih pemimpin yang -dengan segala hormat- tidak bisa disebut berkualitas. Bergembira menyambut mencium tangan siapapun yang membawa uang, tidak peduli dari mana dan bagaimana uang itu didapat. Gampang ditipu, gampang dihibur, gampang lupa. Cengengesan di depan konten receh, marah sebentar di Twitter, lalu lupa lagi.
Eksekutif? Kabinet yang dibentuk gemuk, 48 kementerian dengan 56 wakil menteri -yang menurut kalkulasi sederhana para ekonom menghabiskan lebih dari 700 miliar rupiah per tahun hanya untuk gaji dan tunjangan. Padahal katanya mau efisiensi. Belum lagi proyek-proyek yang terindikasi menguntungkan segelintir kalangan. Korupsi Pertamina dan PT Timah yang merugikan negara ratusan triliun. Korupsi laptop Chromebook di Kemendikbud yang merugikan negara hampir 2 triliun, sampai menteri-nya pun jadi tersangka. Program Makan Bergizi Gratis yang anggarannya sudah 71 triliun di 2025 dan akan dinaikkan lima kali lipat, tapi 27 yayasan pelaksananya terafiliasi partai, dan ribuan penerima manfaat dilaporkan mengalami keracunan. Seperti kata Tempo, itu bukan program, itu proyek. Berita tentang korupsi penyelenggara pemerintahan yang nyaris setiap hari. Sulit sekali untuk tidak berprasangka buruk, adakah pejabat yang tidak korupsi di negeri ini.
Legislatif? DPR adalah lembaga dengan tingkat kepercayaan publik paling rendah di antara semua lembaga negara -di bawah 50 persen menurut berbagai survei dari Indikator Politik, IPO, hingga Charta Politika. Tidak mengejutkan. Sistem pemilihan kita menghasilkan anggota dewan berdasarkan seberapa terkenal dan seberapa kaya, bukan seberapa kompeten. Hasilnya? Legislasi ugal-ugalan. Revisi undang-undang penting dibahas dalam hitungan jam. Fungsi pengawasan terhadap eksekutif? Lebih sering jadi tukang stempel daripada mitra kritis. Satu peneliti dari Formappi bilang: “Pergantian periode DPR setiap lima tahun sekali sama sekali tidak berdampak pada perubahan citra dan kinerja DPR secara kelembagaan.” Lima tahun sekali ganti muka, tapi rohnya tetap sama.
Yudikatif? Mafia peradilan sudah bukan rahasia lagi. Korupsi bahkan sampai di level tertinggi Mahkamah Agung. Semua kasus bisa diatur kalau tahu caranya, kalau punya uangnya. Keadilan bukan lagi tentang mana yang benar, tapi tentang siapa yang lebih dalam kantongnya.
Pers? Media massa yang harusnya jadi “the fourth estate”, kekuatan keempat yang mengimbangi tiga kekuasaan formal, sekarang terpolarisasi dan banyak yang terkooptasi. Self-censorship untuk topik tertentu sudah lazim. Pemberitaan tidak berimbang sudah biasa. Berita soal MBG yang bermasalah, soal demo mahasiswa yang besar -ada yang diberitakan setengah hati, ada yang diabaikan, ada yang dikemas ulang menjadi sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Mahasiswa? Gerakan mahasiswa mudah ditunggangi. Kemurnian gerakannya selalu dipertanyakan -ada yang memang murni, ada yang disponsori. Dan yang paling menyedihkan: aktivis hari ini sering berubah 180 derajat begitu berkuasa. Apa yang dulu dikritik, dilakukan sendiri. Apa yang dulu diperjuangkan, dilupakan. Diam-diam bercita-cita seperti seniornya yang sudah duduk nyaman itu, dan bilang ke junior-juniornya, “enak juga ini barang”.
Jadi dari mana perubahan itu bisa datang?
Kami tidak tahu. Dan justru karena kami tidak tahu itulah kami mengangkat tangan.
Ya Allah, kami tahu dosa kami masih menumpuk. Kami tidak datang dalam kondisi bersih dan wangi. Kami datang dalam kondisi apa adanya -compang-camping, penuh kekurangan, tidak sempurna dalam ibadah, tidak konsisten dalam kebaikan. Tapi kami mencintai negeri ini. Dan kami tidak mau pura-pura bahwa segala sesuatunya baik-baik saja.
Kami mohon intervensi-Mu -bukan karena kami layak, tapi karena kami tidak punya jalan lain. Bukan azab yang kami minta. Bukan banjir, bukan gempa, bukan langit yang terbelah. Kami minta yang lebih halus dari itu: sinyal-Mu pada hati-hati yang tepat. Sentuhan hidayah-Mu pada seseorang di tempat yang tepat, di waktu yang tepat. Skenario-Mu yang tidak pernah terbayangkan oleh strategi politik manapun. Solusi yang datang dari pintu yang tak terduga.
Karena Badar juga tidak terbayangkan. Tiga ratus tiga belas orang melawan seribu, dan yang menang justru yang lebih sedikit. Itu bukan keajaiban yang tinggal di museum sejarah. Itu tanda bahwa kalkulasi-Mu tidak sama dengan kalkulasi manusia.
Dan untuk itu, kami -di Maiyah, semampu kami- berusaha menjadi kaum yang layak ditolong. Bukan dengan mengklaim kesucian. Tapi dengan tetap duduk bersama, berpikir bersama, menjaga kejujuran bersama, dan tidak menyerah pada kebusukan yang melingkupi.
“Robbana laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa min ladunka rahmah. Innaka antal wahhaab.”
Ya Allah, Tuhan kami, jangan biarkan hati kami menyimpang setelah Engkau memberi petunjuk. Anugerahkan kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.