Seorang Kiai berdoa di tengah ribuan umat memohon berhentinya hujan yang tiba-tiba mengguyur acaranya. Sontak hujan berhenti. Doa terkabul. Apakah Kiai tersebut sangat kinasih sehingga doanya langsung dijawab? Belum tentu. Bisa jadi ada di antara yang hadir yang betul-betul merupakan kekasih Allah yang ikut mengamini dan didengar doanya.
Ada seorang suami yang ‘mblunat’ kelakuannya tetapi seakan selalu dikabulkan doa dipermudah jalan rezekinya. Istri cantik jelita, sholehah, anak banyak dan berhasil semua, keluarga ceria bahagia, harta berlimpah, karir moncer, dan semua hal indah lainnya di dunia dimilikinya. Apakah tidak ada pengaruh bejatnya kelakuan suami itu dengan terkabulnya doa? Mestinya ada. Tetapi mungkin doa istrinya lah yang diijabahi Allah swt. Atau bisa jadi juga, si suami tadi sedang di-istidraj. Sekalian disesatkan karena saking bebalnya terhadap peringatan-peringatan.
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al-An’am: 44)
Kita harus berprasangka baik bahwa Allah akan mengabulkan doa kita sesuai janjinya. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (QS. Gafir: 60). Tetapi kita juga harus waspada, apakah doa kita sudah benar-benar ditujukan kepada-Nya? Dan bukannya ke nya-nya yang lain, termasuk ego kita sendiri? Jadi jangan sampai kemudian kepleset menjadi GR menyangka kita pasti sudah di-ridla-i Allah, hamba terpilih, atau bahkan merasa sakti, ketika doa kita seakan selalu terjawab. Atau sebaliknya, berputus asa ketika permohonan tidak kunjung diijabahi.
Tentu lebih mudah bicara daripada praktiknya, karena begitulah manusia, tidak tahu diri ketika senang.
Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” (QS. Al-Fajr: 15)
Dan sebaliknya berkeluh kesah ngambek ketika susah.
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” (QS. Al-Fajr: 16)