Rezeki dari Arah Tak Terduga
Renungan atas QS. At-Talaq ayat 3 tentang janji rezeki dari arah tak terduga, dan mengapa kita sering gagal benar-benar meyakininya.
Renungan atas QS. At-Talaq ayat 3 tentang janji rezeki dari arah tak terduga, dan mengapa kita sering gagal benar-benar meyakininya.
Urusanku dengan manusia hanyalah dalam rangka menyelenggarakan tugas kekhalifahan. Keluh kesah, curahan hati, dan permintaan tolong, hanya aku sampaikan pada Tuhanku Allah semata.
Barangsiapa yang ingin melihat wajah Tuhannya, hendaknya dia beramal sholeh atau bekerja keras. Bekerja itu bukan untuk mengejar karier. Tapi karena memang disuruh bekerja. Gaji dari kantor rejeki dari Tuhan. Rejeki sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk semua makhluk-Nya. Bahkan untuk cacing sekalipun. Yang perlu dilakukan hanyalah ‘bergerak’ menjemputnya. Success comes to those who have chosen not to make success their primary goal. Do well by doing good.
Kita seringkali memelihara rasa khawatir karena diam-diam dengan bodohnya kita menyangka bahwa rasa khawatir itu mencegah terjadinya sesuatu yang kita khawatirkan itu. Dan kita dengan bodohnya terus berangan-angan akan sesuatu yang kita inginkan karena menyangka khayalan itu akan membantu mewujudkan impian kita.
Suka tidak suka engkau akan diseret oleh Qadha dan Qadar-Nya. Engkau berkehendak dan Allah pun mempunyai kehendak, tetapi kehendak Allah-lah yang akan berlaku. Jadi mengapa engkau tidak memilih untuk menyerahkan diri saja dan menikmatinya?
Dalam hidup ini berapa persen yang kita ikut terlibat mengurusinya? Metabolisme tubuh kita saja bukan kita yang secara sadar mengurusinya. Otak mengkoordinasi bekerjanya organ-organ tanpa sedikitpun kita sadar bagaimana terjadinya. Tanaman yang kita makan, kita hanya menanam, selebihnya Allah dan aparat-Nya yang menumbuhkannya. Apalagi bagaimana planet, tata surya, galaksi, dan seluruh alam semesta tertata dengan sedemikian rapi dan presisinya. Tidakkah kamu memikirkannya? Kenapa kamu tidak segera menyerahkan diri saja kepada-Nya?
Hati perlu digantungkan pada sesuatu agar bahagia — tapi kalau digantungkan pada yang fana, ia akan terhempas; maka gantungkanlah pada buhul tali yang kokoh.
Ketika doa seakan selalu terkabul, jangan buru-buru merasa jadi kekasih Allah — bisa jadi itu doa orang lain, atau justru istidraj.
Sudah jelas, rejeki itu bagi-bagi atau ‘dum-duman’ dalam bahasa Jawa. Dari pemilik saham 100% alam semesta. Bagian dari nasib, kehendak Allah, semua-maunya Allah, yang bagaimanapun manusia berusaha mewujudkan kehendaknya, maka kehendak Allah-lah yang akan berlaku. Semua kalah oleh nasib. Kesuksesan dunia diperoleh orang dengan jalan dan kondisi yang berbeda-beda. Steve Jobs tidak memiliki pendidikan formal di bidang teknologi, dan juga tidak memiliki keterampilan teknis IT. Tetapi dia dianggap inovator paling unggul di bidang IT. Atau kita ambil contoh dari kehidupan sehari-hari. Ada orang yang waktu sekolah cukup pintar dan bercita-cita tinggi tetapi berakhir menjadi tukang becak. Sementara temannya yang bodoh di sekolah malah menjadi bupati. Sehingga setiap kali tukang becak ini lewat di depan pendopo kabupaten, setiap kali genjotannya diiringi dengan gerundelan tentang nasibnya yang kurang beruntung. ...
Kalau tak engkau serahkan sepenuhnya kepada Yang Kuasa Maka dirimu senantiasa akan sengsara Karena pikiranmu selalu mendamba Apa yang tidak ada di sana Ketika musibah menimpamu Hatimu resah sedih kapan ini akan berlalu Ketika berkah dititipkan padamu Hatimu tetap gelisah khawatir akankah ini tetap menjadi milikku Maka didiklah diri Untuk cukup hanya mengamati Tanpa perlu menghakimi Apapun saja yang terjadi Tidak khawatir dan tidak pula bersedih hati Itulah kebahagiaan surgawi yang dijanjikan Ilahi Rabbi Untuk hamba-Nya yang sejati Yang mau menempuh jalan sunyi