Sepenggal kisah seorang Penyair Besar Jogja. Suatu malam dia berkata pada muridnya.

“Em, ayo temani saya.”

“Ke mana Mas?” Si Murid bertanya. Tak ada jawaban, seperti biasa. Sang Penyair Besar tidak merasa perlu menjawab. Dia hanya mulai berjalan menyusuri Malioboro menuju ke Utara. Si murid bergegas menyusul.

Berkilo-kilo meter mereka berjalan berdua. Dalam diam, tidak ada percakapan apapun. Sampai kemudian mereka berhenti di warung pinggir jalan Solo - Jogja. Tetap dalam sunyi, mereka menghabiskan waktu berjam-jam di warung itu. Hanya ditemani kepulan asap rokok dan teh nasgitel yang entah sudah gelas ke berapa ‘jog’ nya.

Hampir jam 3 dini hari, tiba-tiba Sang Penyair Besar menyuruh si murid.

“Em, coba kamu keluar ke jalan. Sebentar lagi ada bis malam dari Malang jurusan Jogja lewat. Kalau sudah lewat kasih tahu saya.”

Benar saja, tidak lama berselang bus malam yang dimaksud itu melaju melintas. Si murid kembali ke warung dan melapor.

“Iya Mas, barusan lewat busnya”. Sekilas terlihat pancaran bahagia di raut muka Sang Guru. Tetapi ya hanya begitu saja. Tidak ada kata apapun keluar dari mulutnya.

Sejurus kemudian, “Em, ayo kita pulang”. Dan mereka berdua pun kembali berjalan berkilo-kilo meter menyusuri jalan kembali ke Malioboro.

“Absurd betul”, dalam hati si murid menggerutu. Semalaman jalan kaki dan nongkrong di warung, hanya untuk menunggu bis malam jurusan Malang-Jogja lewat.

Setelah sekian lama barulah si murid paham. Rupanya gadis pujaan hati Sang Penyair Besar berasal dan sekarang bermukim di Malang. Sang Penyair Besar membayangkan si gadis berada dalam bus itu, dan itu sudah cukup membuatnya bahagia. Jangankan berjumpa bertatapan mata, sekadar mendengar dan melihat apapun saja yang terkait dengan kekasih hatinya, sudah bergetar hatinya.

Kisah cinta Sang Penyair Besar layaknya puisi. Kehidupan puisi. Aku sedikit-sedikit mencicipi dan mengerti rasanya.