Aku pernah mengunjungi sahabat karibku yang sakit kanker paru-paru stadium 4. Sahabat sangat dekat dan sangat berjasa mempertemukanku dengan jodohku. Kankernya sudah menyebar ke mana-mana sampai ke otak. Tinggal menunggu waktu saja. Sedih dan bingung mau berkata apa. Menasihati untuk sabar rasanya kok ya kurang ajar. Itu sama saja murid menasihati guru. Temanku itu jelas sudah kelas maha guru kesabaran, terbukti dalam kondisi seperti itu masih bisa tersenyum dan mencoba bercanda dengan teman-teman yang membesuknya.
Aku raih handphone dan menulis pesan wa pada guruku. “Cak, mohon pencerahannya apa yang sebaiknya saya sampaikan ketika membesuk teman yang sedang sakit sangat berat, dan secara medis sudah tidak ada harapan? Matur nuwun sebelumnya”. Pesan wa balasan masuk.
Sungguh beruntung orang yang ditempatkan dalam posisi yang sangat dekat dengan Allah SWT dan tidak ada pilihan lain kecuali hanya berserah dan menggantungkan diri kepada-Nya.
Aku lupa persis redaksinya pesan itu, tapi jauh lebih bernas, indah, dan menyentuh dari yang kutulis ini. Intinya membesarkan hati dan memberi makna di saat-saat terakhirnya. Menyesal betul kenapa sampai lupa menyimpannya. Kutunjukkan pesan itu kepada temanku. Aku peluk dia. Kami berdua berlinang air mata, menangis dalam diam. Aku lihat wajahnya setelah itu lebih sumringah dan bercahaya. Alhamdulillah.
Ada banyak pintu menuju kesadaran tauhid. Bahwa dunia ini tidak ada artinya apa-apa. Tidak ada kekuasan selain Kekuasaan Allah. Dan bahkan sejatinya tidak ada realitas apapun kecuali Realitas Sejati Allah SWT. Dan kondisi sakit yang menuju kematian adalah satu satu pintu terbesarnya, kalau bisa memaknainya dengan benar. Ada banyak orang yang mencapai enlightment setelah menderita sakit berat. Sakit yang ‘memaksa’ untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dan ini adalah keberuntungan yang besar, karena begitu banyak orang yang tidak diberi kesempatan untuk bertransformasi menjadi ‘jiwa yang tenang’ sebelum meninggal. Mendadak dipanggil menghadap-Nya ketika jiwa masih resah disibukkan dengan segala macam hal keduniaan yang sia-sia. Kemenangan terbesar apalagi yang kita dambakan, selain masuk dalam kategori:
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr: 27-30)
Tentu kita tidak perlu menunggu sakit parah sebagai trigger untuk menyadari bahwa satu-satunya yang bisa kita gantungkan nasib adalah Allah SWT dan berproses menjadi nafsul muthmainnah. Tidak perlu menunggu dipaksa untuk mengakui kekuasaan-Nya. Perhatikan dan renungkan ayat-ayat -baik qauliyah maupun kauniyah- Nya, dan engkau akan sampai pada kesimpulan yang sama bahwa innallaaha ‘alaa kulli syaiin qadir, sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. Coba renungkan, dalam hidup ini berapa persen yang kita ikut terlibat mengurusinya? Metabolisme tubuh kita saja bukan kita yang secara sadar mengurusinya. Otak mengkoordinasi bekerjanya organ-organ tanpa sedikitpun kita sadar bagaimana terjadinya. Tanaman yang kita makan, kita hanya menanam, selebihnya Allah dan aparat-Nya yang menumbuhkannya. Apalagi bagaimana planet, tata surya, galaksi, dan seluruh alam semesta tertata dengan sedemikian rapi dan presisinya. Tidakkah kamu memikirkannya? Kenapa kamu tidak segera berserah diri saja sekarang juga kepada-Nya?