“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” Kalimat ini sangat populer dan sejak lama dibilang sebagai hadits. Mbah Nun pernah mengatakan, sedari awal mendengarnya beliau sudah curiga dengan keaslian hadits ini. Karena ungkapan seperti ini sangat tidak mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah. Rasanya tidak mungkin Beliau mengucapkannya. Nggak Kanjeng Nabi banget. Dan ternyata memang terbukti kemudian, ini bukanlah hadits Nabi.
Ini adalah perkataan yang sangat sekular, memisahkan urusan dunia dan akhirat. Seolah-olah ada aktifitas untuk dunia dan ada kegiatan untuk akhirat. Seakan-akan belajar matematika, fisika, kimia, dan biologi itu bukan urusan agama. Yang urusan agama adalah belajar aqidah, fiqh, nahwu sharaf, dan tafsir.
Seolah-olah bekerja menjadi petani, kuli bangunan, buruh, karyawan, pengusaha itu hanya urusan dunia. Sementara Ustadz adalah pekerjaan akhirat. Politik, sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi itu bukan wilayah ulama. Ulama direduksi menjadi hanya ahli fiqh yang pekerjaan utamanya menentukan halal dan haramnya suatu produk makanan dan menentukan kapan hari raya tiba.
Cara berpikir sekular seperti ini yang menyebabkan koruptor tanpa malu datang umroh dan Haji ke Mekah dengan biaya hasil curiannya. Itu mengapa negeri kita mempunyai orang ‘bergelar’ haji terbanyak, tetapi juga menduduki peringkat atas dalam hal korupsi.
Perkataan ini juga menjadi semacam pembenaran bahwa kita boleh mengejar dunia sebanyak-banyaknya asalkan tidak melupakan akhirat. Selama ini firman Allah:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi… (QS. Al-Qasas: 77)
dipahami bolehnya kita fokus untuk mengejar-ngejar harta, menjadi kaya, dan menikmati dunia. Asalkan pada saat yang bersamaan tetap shalat, puasa, bayar zakat, dan naik haji supaya juga mendapatkan jatah surga di akhirat.
Padahal dalam Islam semua aktifitas adalah dalam rangka mempersiapkan kehidupan abadi di akhirat. Karena sesungguhnya dunia ini hanyalah bagian dari kehidupan abadi manusia. Jadi semuanya adalah urusan agama. Apakah ada yang bukan urusan agama, sedangkan “innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun”, sesungguhnya semua milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.
Yang utama adalah mempersiapkan kehidupan akhirat, bukan sebaliknya. Rasulullah memberikan tamsil dunia seperti halnya air yang menempel di jari setelah dicelupkan di lautan. Sangat tidak berarti. Atau seperti bangkai anak kambing yang cacat. Sangat hina. Dan sungguh sangat singkat karena 1 hari akhirat sama dengan 1000 tahun waktu di dunia.
Jadi seharusnya fokusnya adalah meruhanikan segala sesuatu untuk bekal di akhirat, dengan tetap memenuhi hak jasmani kita secara sepantasnya akan kehidupan dunia. Dan bukan sebaliknya, yaitu berlomba-lomba mewujudkan cita-cita kebanyakan orang, yaitu hidup kaya raya dan mati masuk surga.