Orang-orang duduk bersama tapi tak ada yang berbicara. Keluarga berkumpul di rumah bukannya bercengkerama tapi malah asyik bermain WA. Hal pertama yang dilakukan kebanyakan orang segera setelah bangun tidur adalah memeriksa akun media sosialnya. Mungkin kantuk masih menggelayut di mata, tapi tidak cukup kuat untuk menahan rasa penasaran melihat ada notifikasi baru di gawainya. Setiap orang sibuk terpaku pandangannya pada layar hitam di genggamannya, tenggelam dalam ruang mayanya sendiri-sendiri.
Memang itulah yang dimaui para perancang aplikasi gawai pintar khususnya platform media sosial. Tujuannya sederhana, yaitu bagaimana caranya mendapatkan atensi orang selama dan se-intens mungkin. Caranya adalah dengan menyajikan apa yang ingin ditonton oleh orang tersebut. Sehingga orang akan terus menerus scroll membaca content yang dia sukai, tak ada habisnya. Dan ini dimungkinkan oleh algoritma kecerdasan buatan yang mampu melakukan profiling kepribadian seseorang berdasarkan semua data yang disetorkan secara suka rela (tapi seringkali tanpa disadari) oleh orang tersebut ketika mereka berinteraksi di internet. Bahkan setelah tahu data kita dikumpulkan sedetail-detailnya oleh perusahaan teknologi, sebagian besar dari kita tetap memilih untuk menggunakan layanan gratisnya. Karena memang ternyata hidup lebih mudah dengan menyerahkan diri sepenuhnya ke algoritma. Biarkan mereka yang memutuskan apa yang terbaik untuk kita. Apa yang perlu kita beli, siapa pasangan yang cocok buat kita, olahraga apa yang paling cocok dan berapa lama, dan bahkan pilihan ideologi yang akan membuat kita bahagia.
Padahal, adakah yang gratis di dunia. There is no free lunch. Kalau Anda menggunakan produk secara gratis, berarti Anda adalah produknya. Segala informasi tentang kita dan prediksi akurat berdasarkan data kita itulah yang dijual oleh perusahaan raksasa teknologi itu ke pengiklan. Merekalah yang membayar semua layanan gratis itu.
Didukung supercomputer yang mampu melakukan komputasi sedemikian cepat, algoritma AI mampu melakukan self-learning layaknya manusia dan semakin hari semakin cerdas. Saking cerdasnya sehingga algoritma ini lebih tahu tentang diri kita daripada kita sendiri. Coba perhatikan pada saat kita browsing atau menggunakan akun media sosial kita. Kita akan disuguhi dengan barang yang sedang kita cari. Setiap kali saya buka Instagram, akan bertebaran iklan tentang sepeda dan segala pernak perniknya. Yang masih saya tidak paham adalah, setiap kali buka halaman berita lokal, saya akan disuguhi iklan lingerie dari Zalora. Seinget saya, saya hanya beli baju pria di sana, entah kenapa kemudian algoritma pengiklan memutuskan bahwa mungkin saya tertarik dengan lingerie. Mungkin karena mereka menyimpulkan bahwa profil saya adalah pria romantis. Atau bisa jadi karena saya diam-diam pernah browsing akun cewek-cewek seksi di Instagram…
Sebenarnya industri atensi bukan hal yang baru. Dulu dikuasai oleh televisi yang berebut perhatian pemirsa dan bisa diukur dari rating acara. Sekarang diukur dengan jumlah like dan follower. Bedanya adalah sekarang iklannya tidak intrusif, merayunya lebih halus tidak kentara, pelan-pelan mengubah perilaku pemirsanya. Dan acaranya bisa dinamis dan sangat personal disesuaikan dengan pemirsanya. Setelah iterasi berkali-kali dan afirmasi hal yang sama maka tanpa disadari orang tersebut juga semakin ditarik neraca keseimbangan psikologisnya ke arah kecenderungan nafsunya.
Ini seperti acara TV yang diprogram secara personal untuk 2 milyar orang. Setiap orang memiliki program acaranya sendiri-sendiri sesuai dengan minatnya. Makanya kemudian polarisasi semakin tajam. Orang semakin yakin bahwa yang mereka pegang saat ini -betapapun konyolnya- adalah kebenaran, karena setiap saat disuguhi dengan konten yang sepaham dengannya. Jadi semua orang benar-benar hidup dalam realitasnya masing-masing.
Belum lagi di dalam realitas maya itu kemudian kita akan digoda lagi iklan-iklan yang juga dirancang sedemikian rupa sehingga sangat relevan dengan keinginan kita. Angan-angan terus dipanjang-panjangkan oleh iklan itu sehingga 2 milyar orang selalu merasa ada yang kurang dan tidak bahagia. Bisa jadi atmosfir inilah yang di-respons oleh alam menjadi bencana yang tidak ada henti-hentinya. Ketika kita berada di ruangan yang penuh dengan orang-orang yang bertengkar penuh kebencian, ruangan akan terasa panas betapapun pengatur udara telah diatur mendinginkannya. Itu karena suasana batin manusia memang mengeluarkan energi.
Tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu apapun yang menjauhkan dari Tuhan sejatinya adalah dosa. Dan media sosial adalah alat yang secara aktif menggoda kita untuk menghabiskan waktu yang menjauh dari-Nya. Dalam konteks itu, kita sudah seharusnya secara serius memperhatikan cara kita ber-Internet dan khususnya ber-medsos, supaya manfaatnya lebih besar dari mudharatnya, dan tidak terjerumus dalam dosa.
Memang halal haramnya suatu benda atau alat itu tergantung dari digunakan untuk apa benda tersebut. Seperti misalnya pisau, dia menjadi halal kalau digunakan untuk memotong sayur, tetapi menjadi haram ketika digunakan untuk menusuk orang. Tetapi ini dengan atribut dasar bahwa benda itu pasif, dan menunggu untuk digunakan. Berbeda dengan media sosial internet. Teknologi ini dirancang untuk merayu-rayu kita menghabiskan waktu dengannya. Jadi itu seperti was-was, bisikan setan, yang saat ini bukan hanya berupa jin dan manusia, tapi juga internet. Misinya satu, yaitu menjauhkan manusia atau membuat ia lalai dari mengingat Tuhannya.
Saat kita membaca surat An-Nas sebaiknya dalam hati ikut selipkan permohonan untuk perlindungan dari was-was bisikan setan yang berasal dari jin, manusia, dan Medsos…