Dari dulu Aristoteles sudah skeptis dengan ide demokrasi. Argumennya sederhana, bagaimana mungkin orang yang berbeda-beda tingkat keilmuannya disamakan sesuai dengan prinsip “one man, one vote” dalam sistem demokrasi? Bukannya merendahkan, tapi tentu ada bedanya suara dari seorang profesor dengan buruh kasar tamatan SD. Kalau semua orang punya hak pilih yang sama, maka hasilnya sangat mungkin adalah keburukan-keburukan dari “mengikuti kebanyakan manusia”.

Makanya kemudian Amerika punya Trump. Ada kutipan yang beredar luas dan sering ditempelkan ke Trump — “If I were to run, I’d run as a Republican. They’re the dumbest group of voters in the country…” — meski belakangan terbukti kutipan itu fabrikasi belaka (People magazine, yang katanya sumber kutipan itu, menyatakan tidak pernah menerbitkannya). Tapi justru di situ ironinya: kutipan palsu pun dipercaya dan disebarkan berulang-ulang, persis menggambarkan gejala yang dikhawatirkan Aristoteles.

Makanya Indonesia kemudian memiliki presiden yang berhasil menang dengan gimmick “gemoy”, kakek gendut lucu berjoget-joget di panggung. Dan wakilnya yang terlihat “plonga-plongo”, dan diloloskan dengan akrobat politik culas bapak dan paman mertuanya.

Tapi hari ini aku mendapati, bahkan orang yang berpendidikan tinggi dan harusnya berilmu, ternyata bisa punya ide untuk mendukung seseorang yang jelas-jelas tidak punya kualifikasi menjadi pemimpin - apalagi di skala nasional, untuk menjadi presiden 2029. Saya rasa Aristoteles akan frustasi, karena ternyata tidak ada bedanya suara antara profesor dan buruh kasar tamatan SD…