Yang dipertimbangkan Allah sebagai titik fokus hisab amalan manusia adalah bukan banyaknya amalan, namun seberapa serius amalan itu dikerjakan. Sederhana saja, jika banyaknya amalan yang jadi ukuran, tentu Allah dianggap tidak adil oleh kaum miskin. Bagaimana kaum miskin akan banyak beramal (apalagi berzakat dan berhaji) kalau untuk sekadar makan sehari-hari saja susah? Bagaimana akan puasa lebih khusyuk kalau jam 2 sampai jam 3 siang di terik sinar matahari ternyata mendapat “godaan” berupa tawaran tarikan mbecak?
Tapi dasar memang kita ini memang ahli ngeles, ini akan menjadi pembenaran. Seperti halnya ketika shodaqoh 10 ribu rupiah untuk masjid. Biarpun 10 ribu yang penting kan ikhlas. Daripada 10 juta tapi terpaksa?