Hinaan dan pujian sama saja tidak ada artinya bagiku, karena yang dihina dan dipuji itu bukan ‘aku’ yang sesungguhnya.

Badan, harta, pekerjaan, dan karir bukanlah aku. Apalagi citra sosial yang mati-matian diperjuangkan dan dipertahankan. Itu semua hanyalah ilusi yang diciptakan pikiran dengan mengasosiasikan diri dengan sesuatu yang di luar diri dan bukan kepunyaan kita.

Aku yang sesungguhnya adalah yang dulu di alam ‘Azali menyatakan kesaksian akan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Namun manusia melupakannya di dunia. Perjalanan di dunia sesungguhnya adalah proses mengingat kembali perjanjian ini.

Kalau kita masih menikmati indahnya pujian, maka kita juga akan mudah merasakan perihnya hinaan. Keduanya reaksi dari ‘aku’ yang mempertahankan eksistensinya yaitu merasa lebih besar ketika disanjung dan merasa terancam ketika direndahkan.

Satu-satunya cara lepas dari siklus penderitaan itu adalah dengan menyadari bahwa ‘aku’ adalah ilusi yang diciptakan pikiran. Dan oleh karenanya melemahkan ‘aku’ dengan tidak berpanjang angan dan menyerahkan diri total kepada Aku yang sejati.