Aku tahu sekarang mengapa sangat terasa berat membaca Al Qur’an. Rasanya seperti menjadi tertuduh yang ditelanjangi habis kesalahannya.
Ketika Al Qur’an berbicara tentang orang munafik yang tidak pernah sungguh-sungguh membantu perjuangan Nabi, aku merasa berdiri di depan cermin dan melihat bayanganku di sana. Aku hanya berdiri di tepian saja, melihat teman-teman berjuang sepenuh hati menolong agama Allah. Aku hanya membantu sesempatnya saja, dan kalau menginfaqkan harta, hanya sebagian KECIL darinya.
Ketika menjelaskan tentang iblis -malaikat yang sangat senior dan paling taat ibadahnya, tetapi kemudian diusir dari surga karena merasa lebih baik dari Adam dan karenanya dengki dengan kekhalifahan Adam- aku merasa serupa dengannya. Hatiku dipenuhi kesombongan. Aku mengira bahwa aku lebih istimewa dibandingkan orang lain, dan oleh karena itu kemudian merasa iri hati ketika melihat orang lain melebihi atau bahkan sekadar menyamaiku.
Untunglah aku sedikit terhibur karena ada orang bijak yang mengatakan sudah lumayan kalau kita ‘bisa rumangsa/merasa’ daripada ‘rumangsa/merasa bisa’. Artinya masih ada peluang untuk memperbaiki diri. Tidak ada orang baik yang mengklaim dirinya baik, katanya. Sehingga Nabi Adam pun berdoa “Rabbanaa zholamnaa anfusanaa wa illam tagfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.”