Ingat kepada Allah
Renungan atas QS. Al-Baqarah ayat 152 tentang janji timbal balik: mengingat Allah dan diingat oleh-Nya.
Renungan atas QS. Al-Baqarah ayat 152 tentang janji timbal balik: mengingat Allah dan diingat oleh-Nya.
Penyebab utama kufur nikmat adalah kita diam-diam berasumsi bahwa kita berhak atas kehidupan dan segala pernak-perniknya di dunia ini. Padahal jelas-jelas, milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi. Jadi kita harus bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang diberikan oleh Allah, karena pada dasarnya we deserve nothing.
Ngelmu kalakone kanti laku, kata orang Jawa. Pengetahuan itu terinternalisasikan dengan latihan. Ada jarak yang sangat jauh antara pengetahuan dengan ilmu. Seseorang bisa mengetahui segala sesuatu tentang pedang, tetapi sama sekali tidak mampu memainkannya. Seseorang bisa sangat luas dan dalam pengetahuannya tentang agama, tetapi tidak tercermin sedikitpun dalam kesehariannya. Hanya praktek, latihan, pembiasaan yang bisa menjembatani jarak itu. Jangan pernah mengira bisa menjadi ahli syukur kalau kita tidak memulai dengan hal-hal kecil. Bersyukur masih bisa terbangun di pagi hari dengan sehat. Masih bisa menikmati makanan. Masih bisa menikmati hangatnya sinar matahari. Jangan pernah mengira bisa menjadi termasuk golongan orang yang sabar jika kita tidak berlatih menyikapi hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan harapan kita dengan sabar. Bersabar menerima ucapan yang menyakitkan hati. Bersabar dalam kemacetan. Jangan pernah mengira bisa menjadi mujahid jika kita tidak berlatih bersungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh-sungguh dalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. ...
Kalau tak engkau serahkan sepenuhnya kepada Yang Kuasa Maka dirimu senantiasa akan sengsara Karena pikiranmu selalu mendamba Apa yang tidak ada di sana Ketika musibah menimpamu Hatimu resah sedih kapan ini akan berlalu Ketika berkah dititipkan padamu Hatimu tetap gelisah khawatir akankah ini tetap menjadi milikku Maka didiklah diri Untuk cukup hanya mengamati Tanpa perlu menghakimi Apapun saja yang terjadi Tidak khawatir dan tidak pula bersedih hati Itulah kebahagiaan surgawi yang dijanjikan Ilahi Rabbi Untuk hamba-Nya yang sejati Yang mau menempuh jalan sunyi
Kejadian apapun saja, kalau bisa menghantarkan kita untuk lebih dekat kepada Tuhan, adalah suatu kebaikan. Jadi sesungguhnya apapun saja di dunia ini adalah kebaikan (karena bagaimana mungkin Allah yang Maha Suci menciptakan keburukan?), tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dan Rasulullah sudah memberikan petunjuk bagaimana menyikapinya. Bahwa hidup itu sejatinya hanya dua, sabar dan syukur. Pada umumnya orang akan memakai sabar untuk menyikapi kejadian yang tidak mengenakkan, dan berlaku syukur ketika mendapatkan apa yang disukai. Walaupun ada juga orang-orang khusus yang bersabar ketika dikaruniai kesenangan (dengan tidak melampiaskan), dan justru bersyukur ketika ditimpa kesusahan, sebagai bagian dari persembahan puasanya kepada Sang Kekasih. ...