Surat terakhir dalam susunan Al-Qur’an, tentang manusia yang akan senantiasa bertempur dengan ‘dirinya sendiri’.
Ayat 1
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Oleh karena itu kita disuruh untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT, Sang Rabb yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Ayat 2
مَلِكِ النَّاسِ
Raja manusia.
Kepada Allah Sang Maha Raja Diraja, Penguasa manusia dan nasibnya dan seluruh alam semesta.
Ayat 3
إِلَٰهِ النَّاسِ
Sembahan manusia.
Kepada Allah satu-satunya Sesembahan.
Urutan Rabb, Malik, dan Ilah ini juga memberikan kita pelajaran cara untuk menghadapi kebatilan manusia - atau masalah apa pun saja dengan manusia - secara bertahap dan bertingkat. Kita harus mengedepankan wajah kasih sayang, ngemong, dan berdialog untuk menemukan solusi terbaik. Jika tidak berhasil maka ditingkatkan intensitas persuasinya dengan tekanan-tekanan. Dan yang terakhir, jika tidak mempan juga, adalah pendekatan secara kekuasaan mutlak.
Ayat 4
مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,
Dari pengaruh buruk lintasan pikiran yang selalu berusaha muncul dari tempat-tempat bersembunyi.
Ayat 5
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
Yang berusaha menguasai kesadaran manusia, sehingga manusia menjadi fasik, lupa pada Tuhannya, dan oleh karena itu kemudian dilupakan dari dirinya sendiri yang sejati.
Ayat 6
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
dari (golongan) jin dan manusia.
Lintasan-lintasan pikiran tak terkendali yang bisa berasal dari hawa nafsu manusia sendiri, ataupun dari jin yang mengalir dalam darah manusia.