Ayat 1
الم
Alif. Lam. Mim.
Hanya Allah yang tahu maknanya. Dan sesungguhnya apakah ada ayat Qur’an yang kita tahu pasti maknanya? Bahkan huruf yang elementer pun kita tidak tahu maknanya. Ini juga mengajarkan bahwa kita jangan hanya terpaku pada yang tekstual. Al-Qur’an penuh dengan simbol dan perlambang yang harus dipahami secara kontekstual, dan sangat mungkin bermakna secara sangat personal bagi masing-masing pembacanya.
Ayat 2
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
Pernyataan Allah bahwa tidak ada yang bengkok dan keliru dalam Al-Qur’an. Hanya orang bertakwa yang bisa mendapatkan petunjuk darinya. Betapa banyak orang yang hafal Al-Qur’an, mengerti artinya, tetapi tidak mendapatkan cahaya apa pun untuk menerangi jalan hidupnya.
Ayat 3
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
Kriteria pertama orang bertakwa sebelum melaksanakan salat (ibadah mahdhah, vertikal) dan membayar zakat (ibadah muamalah, horizontal), adalah percaya kepada yang gaib.
Percaya kepada yang gaib berarti percaya bahwa ada hal lain di luar sesuatu yang bisa dirasakan oleh pancaindra. Berarti juga mengakui dimensi spiritual dari segala sesuatu. Kalau kita sudah benar-benar percaya pada yang gaib, barulah kita punya landasan yang kokoh untuk menghayati dan memaknai dua ibadah berikutnya.
Ayat 4
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Bisa jadi orang yang ‘beridentitas non-muslim’ sesungguhnya bisa digolongkan sebagai orang bertakwa sepanjang tidak mendustakan Al-Qur’an dan Kitab-kitab kebajikan lainnya, dan mereka percaya pada kehidupan abadi.
Ayat 5
أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Orang-orang itulah yang senantiasa diterangi jalannya oleh Allah sehingga mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat.
Ayat 6
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Orang yang menutupi kebenaran akan juga dihijab pendengaran dan penglihatannya dari kebenaran, sehingga tidak ada artinya peringatan bagi mereka.
Ayat 7
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Orang-orang itu seolah-olah tidak punya nurani. Nasihat, anjuran, dan peringatan tidak bisa mereka lihat dan dengar. Dan orang-orang itu bisa jadi adalah kita sendiri.
Ayat 8
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
Ucapan lisan dan penampilan lahiriah sama sekali bukan parameter keimanan seseorang. Iman itu letaknya di hati, dan tidak ada yang tahu keimanan seseorang kecuali Allah dan orang itu sendiri. Kita hanya bisa menduga keimanan seseorang dari outputnya, yaitu apakah dia berlaku mengamankan. Tidak mengganggu jiwa, martabat, dan harta orang lain.
Ayat 9
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
Orang beriman tidak akan tertipu dengan penampilan talbis orang munafik. Orang-orang yang tertipu dengan pencitraan orang-orang munafik sesungguhnya adalah orang munafik itu sendiri, tetapi mereka tidak sadar.
Ayat 10
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Bukan Allah yang menyebabkan mereka tersesat, tetapi karena mereka sendiri yang mengotori hati dan menutupinya dengan dusta.
Ayat 11
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
Orang-orang munafik itu memandang baik perbuatan mereka.