Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Catatan

Aku dulu diajari arti Islam di sini sebagai ‘agama’ dengan segala tata aturan yang harus ditaati. Karena diawali ‘al’, begitu penjelasan yang kuterima waktu itu, yang menunjukkan kata benda. Jadi masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan berarti melaksanakan seluruh aturan yang telah dikodifikasi oleh para ahli fiqh sebagai hukum Islam, mulai dari urusan tata negara, hukum pidana potong tangan, sampai hal yang seremeh-temehnya. Itu semua sangat bagus, tapi mungkin bukan yang utama.

Sekarang aku memilih memaknai Islam di sini sebagai sikap batin keberserahan diri. Berserah dirilah secara kaffah, secara menyeluruh, secara total kepada Allah SWT. Itulah inti ajaran Islam, agama yang dipilihkan Allah untuk manusia. Jalan hidup satu-satunya yang bisa mengantarkan manusia kepada keselamatan dunia akhirat, dan diajarkan oleh seluruh Nabi dan Rasul-Nya. Itu kenapa mereka semua disebut muslim dan kita disuruh untuk tidak membeda-bedakannya.

Dan untuk sampai dan senantiasa dalam kondisi berserah diri itu maka kita harus mewaspadai dan tidak mengikuti was-was yang ditiupkan setan setiap saat ke dalam hati kita.