Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman [31] ayat 22:

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

Catatan

Intisari - dan salah satu arti - dari Islam adalah berserah diri. Dan jelas sekali di sini, itu bukan berarti mengajarkan pemeluknya untuk pasif dan bermalas-malasan. Menyerahkan diri itu sikap batin, sementara secara lahiriah kita diajarkan untuk terus berbuat kebaikan (atau bekerja).

Jadi bagi para kuli, terus berangkat ke kantor, baca dan balas email, follow up yang perlu ditindaklanjuti, kerjakan apa yang harus dilakukan, perbaiki apa yang masih kurang. Bagi para petani, terus mencangkul, menanam benih, mengairi lahan, dan biarlah para aparat Allah yang membantu menumbuhkan benihnya. Terus menanam sebisa-bisanya, dan hasilnya kita pasrahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Wa ilaa Rabbika farghab.

Dan kita tidak perlu khawatir dan tidak akan bersedih karena terjatuh, karena kita telah berpegang pada buhul tali yang sangat kuat.