Aku mencoba untuk menolak memikirkan tentang semua hal, kecuali apa yang terbaik yang bisa aku lakukan saat ini sebagai respons apapun yang terjadi padaku dan sekitarku yang masih dalam kendaliku. Sambil berdzikir dan mensyukuri eksistensiku di dunia. Dan ternyata itu memang sangat menenteramkan.
Sayangnya, itu biasanya hanya bertahan beberapa menit saja. Tanpa sadar aku mulai hanyut lagi dibawa dialog-dialog tak berkesudahan di kepalaku tentang keputusan yang membawa penyesalan masa lalu, dan pemutaran skenario kejadian masa depan yang mengkhawatirkan dan antisipasinya. Dan hasilnya muka keruh karena khawatir dan bersedih hati.